Life in metropolitan city, my writing experience in Starbucks

Situasi pandemik covid19 seperti saat ini di awal 2020, membuat kita jadi punya cukup waktu untuk bernostalgia. Work from home (wfh) yang panjang (di akhir bulan April 2020 ini, dah masuk di minggu ke tujuh buat saya sendiri) menuntut kita untuk dapat lebih aktif untuk beraktifitas dengan segala keterbatasannya. Salah satunya adalah menuliskan kembali artikel lama, yang merupakan artikel ketiga saya di masa pandemik ini (dua artikel terdahulu masuk kategori serius plus perlu banyak mikir… he..he…).

Kali ini, kita revisit Starbucks Coffee Shop, tempat yang setia menemani saya di masa-masa kuliah dulu, di Indonesia tentunya.

Kebanyakan dari kita tentu sudah mengenal Starbucks — dengan lokasi yang tersebar di berbagai tempat di berbagai penjuru dunia, di mana kita dapat menikmati makanan dan minuman yang tersedia dalam suasana yang nyaman dan santai. Kadang, kita bertemu teman-teman maupun para rekan bisnis untuk hanya sekedar berdiskusi maupun bersantai sambil mengobrol bersama.

Di Indonesia, terutama kota-kota besar metropolitan seperti Jakarta, gerai Starbucks hampir dapat ditemui di berbagai tempat keramaian dan pusat bisnis seperti mall, perkantoran dan tempat-tempat keramaian lain pada umumnya (rest area di jalan tol misalnya).

Salah satu minuman favorit saya di pagi hari adalah tall two pumps vanilla latte, hot yang dinikmati dengan oatmeal raisin scone, peanut butter ataupun smoked beef mushroom panini. Walau kalau menikmati di siang ataupun sore hari, saya lebih suka menikmatinya dingin — tall two pumps vanilla latte, iced. Beberapa favorit lain yang kadang saya pesan: tall or grande signature iced chocolate, iced green tea dan iced passion fruit tea.

Ada suatu masa di pertengahan tahun 2006 sampai awal tahun 2008, di mana hampir setiap weekend saya menghabiskan sore hari dengan duduk berjam-jam di Starbucks Senayan City. Mengapa? Ini karena saat itu sedang mengambil kuliah Strata-2, program MM Eksekutif di Binus Business School, yang kebetulan gedungnya bersebelahan dengan Senayan City mall. Hari sabtu setelah jam lima sore adalah waktu selesainya jadwal kuliah, dan biasanya sebagai mahasiswa kita sudah dibekali dengan pekerjaan rumah yang cukup banyak untuk persiapan kuliah di hari sabtu berikutnya. Banyak dari pekerjaan rumah ini adalah berupa tugas membaca studi kasus ( case study), untuk dapat didiskusikan bersama di kelas berikutnya nanti. Studi kasus tersebut biasanya berasal dari universitas-universitas ternama seperti Harvard Business School, MIT Sloan Business School, dan lainnya. Hampir tidak ada studi kasus lokal, dengan pengarang orang Indonesia.

Segelas, kadang beberapa gelas Starbucks Coffee dan sebuah Thinkpad (sebutan untuk notebook merk IBM, yang sekarang sudah berganti nama menjadi Lenovo Thinkpad), dengan 3G modem untuk akses Internet (terdengar jadul yah buat jaman sekarang yang di mana-mana sudah ada Wifi & alternatively bisa tethering lewat Smartphone), selalu setia menemani saya di hari-hari tersebut.

Cukup sering, saya dapat duduk sampai berjam-jam mengerjakan tugas-tugas yang kebanyakan berupa Studi Kasus. Kadang juga berdiskusi bersama teman-teman, jika memang itu tugas kelompok. Diskusi bisa dilakukan sambil duduk-duduk minum kopi, ataupun secara virtual dengan memanfaatkan teknologi (dengan miling list di salah satu penyedia forum diskusi online, yahoogroups atau googlegroups misalnya). Padahal sekarang dah banyak sekali yah pilihan media sosialnya. Dari Facebook, Whatsapp, Instagram sampai Telegram & Messenger dan tentunya yang lagi happening saat ini dengan berbagai tools untuk melakukan video call seperti Zoom, Cisco Webex, Microsoft Teams dan Google Meet.

Masa kuliah Master-degree yang sekitar 20-bulan, dengan diskusi studi kasus di berbagai industri dan fokus seperti Manufacturing, Sales, Marketing, Teknologi Informasi, Human Resources, Operasional, dan lain-lain menjadikan saya berpikir untuk membuat thesis (tugas akhir) yang juga berupa studi kasus. Hal ini juga sangat didukung oleh tim manajemen kampus saat itu, karena kebanyakan mahasiswa menghindari pembuatan studi kasus dan memilih jalur yang normal saja: seperti studi pustaka ataupun riset.

Membuat thesis berupa studi kasus menjadi tantangan tersendiri karena banyak waktu yang harus diinvestasikan untuk melakukan wawancara dengan para pemeran kunci (misal: manajemen puncak), sehingga dapat menganalisa berbagai macam tantangan bisnis dalam melakukan sesuatu tujuan bisnis tertentu. Setelah melalui beberapa proses pencarian, salah seorang dosen yang juga pemilik dari beberapa bisnis bersedia untuk menjadikan salah satu fokus bisnisnya yang sudah berjalan, untuk dapat dibuat menjadi studi kasus. Ia bersedia untuk melakukan wawancara dengan waktu yang sangat fleksibel, yang biasanya dilakukan di hari sabtu atau minggu, dengan pemilihan tempat bertemu, cukup sering di Starbucks Senayan City. Studi kasus tersebut — dengan fokus inovasi bisnis perusahaan lokal, direncanakan akan menjadi salah satu materi bahan perkuliahan berikutnya, sebagai tambahan dari materi-materi studi kasus yang telah ada.

Di akhir masa perkuliahan, thesis saya yang berupa suatu studi kasus sudah menjadi cukup lengkap dengan format standar thesis, studi kasus untuk dibagikan kepada para mahasiswa sebagai bahan bacaan, serta dilengkapi dengan petunjuk untuk para dosen dalam menyampaikannya di kelas, sehingga menurut salah seorang dosen sebaiknya dipertimbangkan untuk dibuat menjadi buku saja. Ini membuat penambahan waktu weekend lebih banyak lagi di Starbucks Senayan City, menghabiskan sekitar tiga bulan untuk menulis buku setelah thesis selesai, untuk versi bahasa inggrisnya.

Buku tersebut terdiri dari 230 halaman, dengan ISBN: 978–1466251281, yang berjudul “ Case Study Method in Leading Graduate Business Schools: A Practical Guide for Getting Your MM/MBA Degree in Indonesia by completing a case study thesis”, walaupun tidak jadi diterbitkan oleh penerbit lokal di Indonesia, sekarang sudah tersedia di Amazon.com. Buku yang diterbitkan pada bulan Agustus tahun 2011 ini juga tersedia dalam bahasa Indonesia, walaupun versi bahasa Indonesianya tidak jadi diterbitkan.

Setelah selesai kuliah, saya lebih sering mengunjungi Starbucks Citiwalk maupun Starbucks di gedung BNI 46, Jakarta. Ini dikarenakan lokasi kantor saat itu yang memang berlokasi di daerah Sudirman. Walaupun saat ini, karena cukup banyak aktifitas di lokasi kantor baru di sekitar Plaza Festival — Rasuna Said, segelas kopi Starbucks menjadi teman setia terutama di pagi hari di area yang pilihan makanannya banyak banget itu . Oh yah, terkait dengan aktifitas pekerjaan, dalam beberapa tahun terakhir ini, saya juga cukup banyak spend waktu di gerai-gerai Starbucks di pusat perbelanjaan Plaza Indonesia dan Grand Indonesia.

Pada beberapa gerai Starbucks yang rutin saya kunjungi, para Barrista sudah menyapa dengan nama, “Selamat pagi Pak Andi, yang biasa pak? — for here tall two pumps vanilla latte, hot “, artinya untuk minuman sudah tidak perlu memesan lagi, tinggal memilih mau tambah pesan makanan yang mana.

Saat kita membayar, rasanya senang kalau kertas print-out-nya lebih panjang dari biasanya, mengapa? Ini karena kita telah mendapatkan customer voice — suatu program dari Starbucks, di mana dengan login ke website Starbucks yang tertulis di kertas tersebut dan mengisi feedback, maka kita akan mendapatkan gratis satu minuman yang kita pilih. Disaat itu (2011–2012) saya bisa mendapatkan customer voice ini puluhan kali, yang banyak juga saya share kepada teman-teman. Dan dengan menggunakan BCA card yang berlaku sepanjang hari sepanjang tahun, minuman ini dapat dinikmati hanya dengan harga ukuran gelas short saja, artinya dari ukuran gelas short di- updgrade ke ukuran tall. Sayangnya, akhir-akhir ini, promosi seperti ini sudah tidak ada lagi.

Bagi para pebisnis, memang tepat kalau dikatakan, Starbucks merupakan pilihan tempat singgah ke-tiga, selain rumah dan kantor dalam melaksanakan aktifitas kita sehari-hari.

Sebagai bagian dari perjalanan bisnis, saya termasuk beruntung sudah pernah mencoba berbagai gerai Starbucks di berbagai tempat di dunia. Sebut saja misalnya mulai dari Asia, Eropa, Australia sampai Amerika Serikat.

Ada satu-dua menu yang kadang berbeda di suatu negara. Satu makanan yang saya suka kalau menikmati breakfast di gerai Starbucks di Amerika misalnya: Chicken Sausage & Bacon Biscuit yang dinikmati dengan segelas hot-Vanilla latte di pagi hari di awal tahun, dengan udara yang segar di kisaran suhu12–18C.

Originally published at http://andisama.blogspot.com.

Get the Medium app

A button that says 'Download on the App Store', and if clicked it will lead you to the iOS App store
A button that says 'Get it on, Google Play', and if clicked it will lead you to the Google Play store