Mencermati Arah Perkembangan Teknologi dan Inovasi @CES 2025
Panggung Global untuk mendemonstrasikan berbagai Inovasi Teknologi Terkini
Andi Sama — CIO, Sinergi Wahana Gemilang
TL; DR;
- CES 2025, acara tahunan yang menghadirkan berbagai inovasi teknologi
terkini. Pada awal tahun 2025 ini kembali diadakan di pertengahan musim
dingin, di Las Vegas, Nevada, Amerika Serikat.
- Beragam perkembangan teknologi ada di sini - sebut saja digital health,
AI, sustainability, gaming, vehicle tech, cybersecurity, beauty and fashion
tech, space tech, termasuk kuantum.
Memiliki kesempatan dan kemampuan untuk mengikuti berbagai perkembangan terkini dari beragam trend yang ada di dunia teknologi informasi tentunya menjadi tantangan tersendiri bagi para professional di bidang yang bergerak sangat dinamis ini. Sebut saja beberapa perkembangan yang sangat cepat dalam satu dekade terakhir ini — dari Cloud Computing, Internet of Things, Bigdata, Blockchain & Metaverse, Security, Artificial Intelligence (AI) & Generative AI, sampai kepada Supercomputing, dan Quantum computing.
CES 2025, Consumer Electronics Show by CTA — Consumer Technology Association, yang kali ini kembali diadakan di Las Vegas, Nevada, Amerika Serikat, menjadi ajang showcase terkini dari berbagai inovasi yang berskala global.
Event yang memiliki tagline “The Global Stage for Innovation” ini menempati ruang pameran setara 23x lapangan sepakbola, yang terdistribusi pada beberapa tempat di Las Vegas. Conference & Exibition yang berlangsung selama enam hari pada tanggal 5–6 dan 7–10 Januari 2025 ini digelar di Mandalay Bay Shoreline Exhibit hal, Las Vegas Convention Center (LVCC), Venetian Expo and Convention Center, serta Aria Resort & Casino. Sesi untuk dua hari pertama dikhususkan untuk para awak media, kecuali keynote speech dari NVidia.
CES 2025 menggelar berbagai teknologi terbaru pada area digital health, Artificial Intelligence, sustainability, gaming, vehicle tech, cybersecurity, beauty and fashion tech, space tech, dan lainnya. Berbagai perusahaan kelas dunia (maupun menengah dan startup) berpartisipasi. Sebut saja perusahaan-perusahaan yang bergerak dalam bidang manufacturers, developers, suppliers of consumer technology hardware, content, technology delivery systems, dan lain-lain.
Seperti dikatakan dalam CES 2025 website (CTA, 2025) “Don’t be left in the past as we shape the future,” — Jangan tertinggal di masa lalu selagi kita merangkai masa depan.
“Don’t be left in the past as we shape the future (CTA, 2025)”
Penulis, mewakili Sinergi Wahana Gemilang (SWG) sangat beruntung saat registrasinya, sebagai industry attendee, di-approve untuk dapat mengikuti CES 2025 secara in-person. Untuk dapat diterima, penulis perlu mengirim beberapa credential saat registrasi online yang menunjukkan keterlibatan kita secara signifikan dalam consumer technology industry — seperti misalnya business card, nama kita di website resmi, surat tugas, bukti pernah diliput oleh media dalam sembilan bulan terakhir atau menjadi penulis artikel atau menjadi pembicara tentang teknologi terkini. Dan menurut kabar, tidak semua yang mendaftar di-approve. Jika menjadi bagian dari salah satu booth di exhibition, kita juga dapat mendaftar sebagai exhibitor. Pilihan lainnya adalah mendaftar sebagai media.
Persiapan Keberangkatan
Sebagai pemegang passport Indonesia, kita memerlukan Visa (ijin untuk masuk ke wilayah Amerika, ditempelkan satu halaman penuh secara fisik di passport kita) untuk dapat mengunjungi Amerika. Visa dapat berupa ijin sebagai turis maupun untuk keperluan bisnis. Bagi penulis yang beberapa kali sudah mengunjungi beberapa kota di Amerika, Visa dengan multiple-entry memang selalu diperpanjang, dengan demikian menjadi siap jika diperlukan sewaktu-waktu. Salah satunya, perjalanan ke kota Santa Clara dan Boston di Amerika Serikat pada pertengahan tahun 2022 di penghujung masa COVID-19 untuk XR/Metaverse dan Quantum Communication/Computing/Cryptography International Conference & Exhibition (Andi Sama, 2022).
Bagi yang belum memiliki Visa, saat registrasi kita di-approve oleh panitia CES 2025, secara otomatis ada surat undangan yang dikirimkan melalui email dan dapat digunakan sebagai salah satu persyaratan pendukung untuk mengajukan permohonan Visa ke Kedutaan Besar Amerika yang ada di Indonesia.
Tentunya, setelah Visa sudah tertempel di passport dan registrasi ke CES 2025 sudah dalam status approved, kita dapat melakukan booking pesawat dan hotel. Penulis menggunakan ANA Airlines dengan jalur penerbangan Jakarta — Tokyo — San Francisco — Las Vegas. Yah, dua kali transit, di Tokyo, Jepang dan San Francisco, Amerika Serikat. Perjalanan panjang selama 25 jam yang cukup melelahkan.
Karena perbedaan waktu yang signifikan antara Jakarta dan Las Vegas, jetlag tentunya menjadi efek yang alami karena ritme tubuh kita seolah-olah dibalik 180 derajat dalam waktu yang singkat. Siang yang seharusnya bangun, kita harus tidur. Malam yang seharusnya tidur, kita harus bangun. Mengapa? karena dengan perbedaan waktu yang signifikan itu, siang menjadi malam, dan malam menjadi siang. Waktu di Jakarta adalah GMT+07:00 (WIB — Waktu Indonesia Bagian Barat). Waktu di Las Vegas saat berlangsungnya acara adalah GMT-08:00 (PST — Pacific Standard Time). Jakarta lebih dulu 15 jam dari Las Vegas. Jadi hari Senin siang jam 11:30AM di Jakarta misalnya, itu adalah hari Minggu malam jam 08:30PM — satu hari sebelumnya, di Las Vegas.
Acara diadakan pada pertengahan musim dingin (mid-winter) dengan suhu berkisar antara 2–17C pada minggu kedua di bulan Januari 2025. 12C sampai 2C pada sore dan malam hari, 6 sampai 17C pada pagi dan siang hari. Tentunya, persiapan pakaian musim dingin dan berbagai perlengkapan pendukungnya menjadi suatu keharusan; ditambah berbagai obat-obatan pribadi. Suhu diantara 8 sampai 12C misalnya, masih terasa nyaman dengan pakai kaos, baju dan jaket hangat. Namun kalau sudah ada angin, apalagi cukup kencang, akan terasa sangat dingin menusuk sampai ke tulang.
CES 2025
Dengan ditemani cuaca yang cerah dengan tingkat polusi yang sangat rendah di kota judi ini, event dihadiri oleh para peserta yang berkaitan erat dengan consumer technology industry. Ada 4500+ perusahaan yang membuka booth di CES 2025 (323 perusahaan, atau hampir 65% yang termasuk dalam Fortune-500) dan diliput oleh 6000+ media. Ada 141 ribu+ orang dari 166 negara/wilayah yang menghadirinya secara in-person maupun online, di mana secara mayoritas 58%-nya adalah level senior eksekutif. Sekitar 40% peserta datang dari luar Amerika (CTA, 2025). Event tersebar di 12 lokasi berbeda dengan total area pameran seluas 232 ribu meter persegi (dua setengah juta square feet) di kota yang dibangun di area gurun pasir ini.
Dengan kehadiran ribuan peserta dalam waktu yang hampir bersamaan, badge pickup menjadi tantangan tersendiri. Badge pickup yang dapat diambil beberapa hari sebelum dimulainya CES 2025 event ini tersebar di berbagai lokasi termasuk airport (Harry Reid International Airport), conference dan convention center (LVCC, Golden Nugget) juga berbagai hotel (MGM Grand, Aria, Bellagio, Encore, Wynn, Excalibur, Fontainebleau, Renaissance, Resorts World, Venetian), serta lokasi lainnya (Harrah’s/LINQ Monorail Station).
Transportasi dengan monorail, kereta otomatis tanpa masinis, yang menghubungkan berbagai area di sepanjang jalan utama di Las Vegas, menjadi salah satu pilihan bagi para peserta untuk berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya. Pilihan lainnya tentu tersedia: shuttle bus yang disediakan oleh penyelenggara, taxi, sampai transportasi online seperti Uber dan Lyft. Untuk perjalanan dekat di seputar area LVCC, tersedia pula beberapa mobil Tesla yang siap mengantar para peserta melalui Boring Tunnel.
Berikut adalah beberapa highlights dari event di CES 2025 di mana banyak teknologi yang dihadirkan dengan penerapannya pada berbagai industri. Sebut saja 3D Printing (cetak tiga dimensi), 5G, Accessibility, Accessories AgTech, AgeTech, AR/VR/XR (Augmented Reality, Virtual Reality, eXtended Reality), AI (Artificial Intelligence), Audio dan Video Technology, Beauty Tech, Blockchain, Cloud Computing, Data Construction Tech, Cryptocurrency, Cybersecurity, Digital Health, Drone, Education Tech, Energy/Power, Enterprise, Entertainment dan Content, Family dan Lifestyle, Fashion Tech, Fintech, Fitness, Gaming dan e-Sport, Retail/e-Commerce, Home Entertainment dan Office Hardware, Investing, IoT (Internet of Things)/Sensors, Marketing dan Advertising, Metaverse, NFT (Non-Fungible Token), Quantum Computing, Robotic, Smart Home dan Appliance, Sourcing dan Manufacturing, Space Tech, Sport, Startup, Streaming, Supply dan Logistic, Sustainability, Travel dan Tourism, juga Vehicle Tech dan Advanced Mobility.
Keynote Speech
Dalam event sebesar ini, ada beberapa keynote speech yang hampir tidak mungkin untuk dihadiri semua. Keynote speech biasanya diadakan di tempat yang khusus, yang dapat menampung ribuan orang. Ribuan peserta antri dengan tertib dua sampai tiga jam sebelumnya, untuk dapat memasuki ruangan yang dijaga sangat ketat ini (penjagaan dan pemeriksaan mirip seperti kita masuk area imigrasi di airport).
Berikut adalah beberapa keynote yang penulis sempat menghadirinya secara langsung.
NVidia Keynote — Jensen Huang
Jensen Huang, Founder dan CEO dari NVidia membuka keynote sebelum acara resmi CES dimulai. Acara berlangsung sore hari dan disiarkan langsung di berbagai media streaming saat suhu berada di 10C di Michelob Ultra Arena, Mandalay Bay Resort & Casino, 6 Januari 2025 (Jensen Huang — NVidia, 2025).
Dikatakan, walau saat ini kita sedang berada dalam transformasi AI yang bernama Agentic AI, di mana Generative AI yang kita kenal sebagai LLM (Large Language Model) dan SLM (Small Language Model) dapat melakukan berbagai action, tidak hanya multi-modal generation (text, audio, image, video) berdasarkan prompt saja. Perkembangan selanjutnya akan menuju ke Physical AI, di mana Agentic AI sebagai digital worker (misal: coding assistant, customer service) diintegrasikan ke physical world seperti robotics atau mobil (self driving car).
AlexNet (2012) → Perception AI (2012+) → Generative AI (2017) → Agentic AI (2024) → Physical AI (2024+)
LLM, yang biasanya di-train dengan dataset yang sangat besar membutuhkan daya komputasi yang luar biasa. Tentu saja dengan biaya yang sangat tinggi pula (milyar dollar). SLM adalah salau satu pendekatannya, di mana AI model di-train dengan dataset yang lebih fokus ke suatu atau bebeapa domain saja, bukan dataset seluruh Internet.
Tren saat ini adalah melakukan post-training scaling dengan memanfaatkan model yang sudah di train sebelumnya (pre-trained model).
Scaling up dapat dilakukan dengan menambah dataset melalui mekanisme fine-tuning misalnya, yang juga masih mahal. Salah satu metode populer yang berbiaya relatif rendah adalah menambahkan external dataset dengan menggunakan metoda RAG (Retrieval Augmented Generation).
Tren scaling-up selanjutnya adalah test-time scaling reasoning, di mana pre-trained model “dipaksa” untuk “berpikir” lebih keras dalam melakukan inferencing, dengan cara menambah alokasi sumber daya komputasinya, dengan demikian dapat menghasilkan berbagai opsi yang lebih presisi, dan dapat memilih pilihan terbaik dari berbagai opsi yang ada tersebut. Inferencing adalah proses menjalankan pre-trained AI model.
Dengan perkembangan teknologi yang sedemikian cepat, di mana fungsi komputasi dasar AI diintegrasikan ke dalam hardware itu sendiri, berbagai simulasi untuk men-train model AI akan lebih murah, dan lebih cepat. Dicontohkan bahwa saat ini hanya dibutuhkan satu frame saja untuk setiap empat frame dalam melakukan prediksi dengan menggunakan NVidia RTX Blackwell. 3 frame berikutnya diprediksi oleh AI yang diintegrasikan di dalam chip tersebut.
NVidia juga melihat bahwa Microsoft Windows, dengan WSL/WSL2-nya (Windows Subsytem for Linux, Linux di dalam Windows) merupakan potensi edge computing yang luar biasa untuk menjadi AI PC (AI pada Personal Computer), di mana milyaran perangkat sudah dan akan terus digunakan. CUDA (Compute Unified Device Architecture), software driver universal NVidia untuk berbagai GPU-nya, akan lebih difokuskan untuk dapat mendukung implementasi AI PC melalui WSL/WSL2 ini.
Delta Keynote — Ed Bastian
Acara yang diadakan di The Sphere yang merupakan bagian dari Venetian hotel, resort & casino ini memiliki prosedur entry yang khusus. Setiap peserta harus mendapatkan tiket khusus yang harus diambil sebelumnya. Ribuan orang antri di berbagai tempat untuk mendapatkan tiket masuk ke The Sphere yang dibangun dengan biaya 2,3 milyar dollar dan berkapasitas tempat duduk 18.600 orang ini (Wikipedia, 2025).
The Sphere sendiri merupakan layar high definition terbesar di dunia, seperti bioskop empat dimensi dengan teknologi haptics yang dapat menampung ribuan orang (Sphere Entertainment Group, 2025). Setiap orang yang memasuki areanya, secara otomatis di-scan dengan face recognition system.
Keynote ini diadakan bertepaan dengan 100 tahun Delta mengudara melayani penerbangan domestik di Amerika maupun internasional, centennnial celebration. CEO Delta bercerita tentang sustainable aviation dan pemberian layanan hyper personalized travel experience dengan mengundang beberapa guest speaker saat mengumumkan kerjasama strategisnya dengan Joby aviation (short distance personal air travel experience), Airbus (long-haul air travel experience), YouTube (content experience), dan Uber (ground transportation experience).
Delta yang melayani 200 juta penumpang setiap tahun ini memperkenalkan Hyper personalized travel experience at scale yang dilengkapi dengan ilustrasi seorang travelller (million miles customer) di mana dengan bantuan AI dan Generative AI, diberikan bantuan khusus oleh Delta Concierge digital worker. Dari mulai perjalanan dari rumah ke bandara dengan Joby Aviation, travel experience di dalam pesawat dengan curated content dari YouTube, sampai mendarat dan dijemput oleh Uber.
Para peserta diajak masuk ke dalam travel experience ini secara empat dimensi. Saat traveller masuk ke pesawat mungil Joby misalnya, kita semua seolah terbang dan berada dalam pesawat tersebut. Juga saat pesawat besar bergerak akan take off, para peserta merasakan seolah ada dalam pesawat tersebut dengan getaran di kursinya masing-masing. Saat closing ada Uber-Eat (semacam Gofood dengan sepeda motor) mengantarkan kopi ke para presenter. Dan ribuan peserta langsung mencium aroma kopi di tempat duduknya masing-masing.
Artificial Intelligence — Generative AI dan Agentic AI
Agentic AI menjadi sangat banyak didiskusikan. Peranan digital worker (sederhananya: melakukan action berdasarkan output dari generative AI), implementasi agentic AI sebagai kelanjutan dari generative AI dalam berbagai use-cases menjadi perhatian utama dalam enam sampai sembilan bulan terakhir ini. Walau ke depannya, tren-nya sudah, sedang dan akan menuju ke physical AI — seperti robotics, self driving car, dan flying car.
AI adalah tentang bagaimana kita berinovasi, melakukan automation terhadap sesuatu. Inovasi dan implementasi AI bergerak berdasarkan trust. Apakah kita akan menerapkan AI dengan akurasi hanya 85% pada industri healthcare sebagai digital doctor misalnya? apakah akurasi 92% sudah cukup? apakah perlu sampai mendekati 100%?
Dalam beberapa diskusi panel, Hallucination banyak dibicarakan, suatu fenomena di mana output dari generative AI berbasiskan LLM berbeda jauh dari apa yang seharusnya (ekspektasi manusia). Generative AI berimajinasi “mengarang tanpa dasar” namun sangat meyakinkan, sehingga hasilnya tidak akurat dan jauh dari ekspektasi ground-truth nya (apa yang seharusnya).
Ini merupakan tantangan dari sisi governance, juga security untuk banyak industri dalam melakukan deployment teknologi ini, serta tentunya tentang bagaimana integrasi dengan existing business process maupun data workflow dapat dilakukan. Di sisi lain pada industri media & entertainment, fenomena hallucination mungkin saja merupakan berkah karena industri ini membutuhkan kreatifitas. Output yang tidak terduga, walaupun jauh dari ground-truth nya dapat menjadi ide inovasi dalam berkarya dan berinovasi.
Ada juga istilah responsible AI dengan translasi sederhana: good people produces good technology. Kita lebih percaya kepada AI yang dibuat oleh source yang terpercaya, dengan dataset yang terkurasi dan laporan metrik berbagai hasil training yang transparan sehingga kita dapat mengantisipasi baik dan buruknya dalam mengadopsi AI ke business proses workflow di berbagai industri.
Inilah pentingnya adanya human-in-the-loop dalam penerapan generative AI dan agentic AI, ada sisi human yang menjadi penyeimbang (balancer) yang menjaga dan menjadi verifikatornya. Walaupun dalam beberapa tahun ke depan, mungkin saja terbuka peluang adanya job role baru yang diisi oleh human, sebagai supervisor atau manager dari para digital worker ini.
Sebagai enterprise, berpartner dengan perusahaan yang memiliki pengalaman bereksperimen dengan generative AI (dengan segala kelebihan dan kekurangannya) menjadi penting supaya tidak terjebak ke berbagai kesalahan yang seharusnya bisa dihindari. salah pilih software framework misalnya, atau ada idealisme implementasi bikin dari awal tanpa menggunakan framework yang sudah stabil, tanpa terlebih dahulu menimbang baik buruknya.
Start small, melakukan eksperimen dengan data yang terkurasi menjadi pesan penting dalam melakukan implementasi generative AI dan agentic AI. Melakukan pemilihan size dari LLM dan versi yang sesuai misalnya, untuk mendapatkan hasil yang sesuai dengan ekspektasi use-case nya, akan menjadi implementasi AI yang cost-effective. LLM dengan size (jumlah parameter) yang besar membutuhkan komputasi yang besar pula, artinya biaya lebih besar untuk menjalanannya (inferencing).
AI in Hollywood
Video content search dilihat sebagai hard problem untuk generative AI dan Agentic AI. dan hal ini sudah mulai dilakukan, dengan bantuan beberapa startup — tanpa melakukan tagging/labeling di multi-media content tersebut. Walau di back-end processingnya, tentunya tetap memerlukan sumber daya komputasi yang tinggi (termasuk adanya super computer, high performance computing/hpc dan GPU). Implementasi Agent-based workflow dilihat sebagai game-changer untuk masa depan.
Bagaimana misalnya mencari satu scene di kumpulan jutaan video yang kita bisa sampaikan melalui natural language (prompt). “di film transformer, ada scene di mana aktris Megan Fox membuka kap mobil di tengah jalan, karena mobilnya mogok” atau “ada satu perayaan di kota Jakarta, banyak yang hadir, ribuan orang, di mana tokoh film nama_film muncul bersamaan dengan aktor nama_aktor dan bernyanyi bersama di atas panggung di bundaran Hotel Indonesia. kejadiannya menjelang malam hari, dan ada hujan rintik-rintik.”
Ada beberapa trend menjelang 2030. Diprediksikan bahwa manusia akan dapat berinteraksi dengan mesin, secara natural dan immersif (termasuk adanya kombinasi dengan spatial computing, misal: X Reality). Quantum computing akan menjadi penopang berbagai inovasi di AGI — Artificial General Intelligence. Bahkan, diprediksikan bahwa AI dapat merancang dan memproduksi dirinya sendiri.
Vehicle Tech, Advanced Mobility, dan Robotics
Pada saat berbagai kendaraan tanpa sopir (self driving car), baik dengan target untuk consumer maupun industri, berlomba-lomba untuk menuju level tertinggi, full self driving (autnomous level 5), banyak inovasi yang produk yang ditampilkan di CES ini — tentunya semua berbasiskan Electric Vehicle (EV) untuk sustainability, bukan berbasiskan Internal Combustion Engine (ICE). Ini berlaku pula untuk self driving drone, self flying car, dan robotics. (Imagination, 2025) menjelaskan 6 level dari autonomous driving.
AI yang diterapkan ke bentuk fisik (robotics, mobil, drone, pesawat, dan lainnya), baik traditional AI maupun generative AI atau agentic AI, menjadikannya sebagai physical AI.
Software Defined Vehicle (SDV) menjadi istilah yang banyak muncul. SDV adalah vehicle (mobil adalah salah satunya), yang menggunakan software untuk mengelola berbagai fungsinya. Sederhananya, mobil seperti memiliki operating system, menjadikan software sebagai pengendali utamanya. SDV terkoneksi dengan cloud, dan dapat menerima update (OTA — Over The Air) secara berkala, tanpa memerlukan perubahan di sisi hardware-nya. SDV menggunakan data analytics untuk meningkatkan safety, efficiency, termasuk predictive maintenance.
SDV merupakan paradigm shift dalam automotive. Perubahan mendasar dalam merancang dan mengimplementasikan vehicle dengan dukungan teknologi, AI dan Cloud.
BMW yang bekerjasama dengan Here Technologies menampilkan autonomous level 3 — conditional driving automation (hands-off, eyes-off), di mana live map dan predictive routing berbasiskan AI menjadi teknologi pendukungnya.
Mercedes, yang juga sudah mencapai autonomous level 3, baru saja mendapatkan persetujuan untuk dapat menjalankannya pada 95 km/jam, di Jerman.
XPeng membuat self flying car dengan carrier-nya, berupa mobil. Dengan ini, self flying car dapat ditransportasikan ke mana saja, di mana mobil tersebut berukuran seperti mobil biasa, artinya bisa parkir di mana saja seperti mobil biasa. Paket self flying car + mobilnya ini dapat diperoleh dengan harga USD 300K, sekitar 5 Milyar rupiah.
Aptera membuat mobil bertenaga matahari, serta drone dan self flying car dari Sambo Motors Group.
Goalie merupakan autonomous patrol robot, autonomous level 4 — high driving automation. Goalie dilengkapi dengan LIDAR (Light Detection and Ranging, bukan kamera biasa), ultrasonic sensor dan GNSS (Global Navigation Satellite System) yang memungkinkannya melakukan precise mapping, dan realtime surveilance.
HARR-E merupakan robot pengumpul sampah. Tentu saja HALL-E fully electric. User dapat memanggil HARR-E melalui app di smartphonenya, dalam kompleks perumahan atau apartementnya. HARR-E akan datang, membuka tutupnya, user membuang sampah ke dalamnya, dan kemudian HARR-e akan menutup tutupnya kembali. HARR-E bisa secara otomatis kembali ke tempat chargingnya (lokasi yang telah ditentukan).
Realbotix, membuat robot yang bertujuan untuk menjadi pemandu melalui kemampuannya berkomunikasi dengan bahasa manusia. Menjadi tempat bertanya dan pusat informasi misalnya. Tentu ini didukung oleh generative AI yang berbasiskan LLM.
Quantum
Tahun 2025 menjadi 100 tahun perayaan adanya Quantum Information Science (QIS). Artinya sejak 1925, sejak Werner Heisenberg, seorang fisikawan teoritis, memperkenalkan Uncertainty Principle, yang menandai dimulainya era QIS.
Quantum computing adalah pendekatan hybrid classical-quantum. Artinya, quantum computing tidak berdiri sendiri dan menggantikan classical computing. High Performance Computing (HPC) sebagai classical computing dengan GPU misalnya, meng-outsource bagian komputasi yang kompleks yang sulit dilakukan secara classical, namun cocok dilakukan secara quantum.
Dalam suatu diskusi panel, dikatakan bahwa suatu saat, quantum sensing dan quantum computing (komputer berbasis qubit, quantum bit) akan dapat memprediksi earthquake. Dengan classical computing (komputer berbasis bit, binary digit), hal ini dilihat sebagai hal yang hampir tidak mungkin dapat dilakukan.
Quantum Computing = Classical Computing + Quantum
Microsoft, IBM, Quantinuum, dan IonQ memberikan jawaban yang senada bahwa “Quantum is Now”, bukan teknologi masa depan yang masih dalam taraf eksperimen di laboratorium. Hardwarenya sudah ada, softwarenya juga sudah ada, bisa diakses oleh publik melalui cloud (IBM yang pertama memperkenalkan dan memberikan akses ini kepada publik mulai tahun 2016) — namun tantangannya, belum banyak use-cases yang bisa dilakukan. Diperlukan adanya banyak breakthrough di research, juga berbagai ide untuk use-cases yang potensial untuk dilakukan (misalnya yang saat ini banyak dilakukan: drug discovery untuk membunuh tumor, mencari new type of battery untuk Electric Vehicle/EV, turbulence simulation untuk meningkatkan safety pada transportasi udara).
IBM yang sudah melakukan instalasi 70 quantum computer di seluruh dunia ini, mencanangkan akan dapat mencapai 100 ribu qubit (logical qubit) di tahun 2033. Microsoft melakukan eksplorasi untuk mencari potensial algorithm dengan bantuan Co-Pilot untuk berbagai disiplin. IonQ berpartner dengan Hyundai dan Airbus. Quantinuum meyakini akan dapat mencapai Fault Tolerant Quantum Computing pada tahun 2029 (saat ini, semuanya masih NISQ — Noisy Intermediate Scale Quantum).
Saat ini, diperlukan adanya kerjasama antara pemerintah dengan industri. Terutama dalam hal mengedukasi berbagai stakeholder, tentang adanya teknologi kuantum ini dan berbagai potensi penerapannya. Juga diperlukan pengembangan talent yang lebih banyak (Ph.D di Quantum).
Bertepatan dengan 100 tahunnya Quantum Information Science, deklarasi International Year of Quantum (IYQ) oleh UNESCO yang didukung oleh lebih dari 70 negara (mewakili 5 milyar penduduk di dunia), menjadi sarana untuk mulai memberikan awareness kepada berbagai stakeholder di dunia tentang teknologi kuantum ini, terutama pentingnya quantum science dan dampak dari penerapannya terhadap kehidupan manusia (IYQ, 2025).
Digital Health — Longetivity melalui Precision Medicine
Mimpi jangka panjangnya, precision health melalui precision medicine dapat memberikan rekomendasi untuk suatu tindakan medis (personalized drug development )untuk seseorang, pada saat yang tepat.
Data, yang saat ini masih silo (tidak terintegrasi) menjadi tantangan dalam membangun AI model untuk healthcare. Juga bagaimana nantinya AI perlu dirancang untuk menghasilkan AI model yang dapat memberikan rekomendasi ini.
Trennya, dalam lima tahun kedepan, adalah kemampuan untuk melakukan matching people’s genomic dengan tujuan untuk memberikan rekomendasi, melakukan monitoring, melakukan pencegahan, atau melakukan pengobatan — secara personalized ataupun customized. Personalized — precision medicine tidak scalable. Customized solution untuk specific case dapat menjadi jalan, batu loncatan menuju ke precision medicine.
Precision medicine, atau precision healthcare merupakan paradigm shift dalam healthcare.
Dalam kesimpulannya, diskusi panel di healthcare menyimpulkan bahwa pasien masih lebih percaya dokter sebagai manusia, daripada mesin (AI) dalam memberikan opini atas kondisi kesehatannya. Suatu saat, dalam jangka waktu yang cukup panjang, dengan perkembangan teknologi mendatang, dapat saja mesin (AI, dengan dataset yang semakin baik dan banyak) akan semakin lebih baik dan semakin akurat, dan tingkat kepercayaan terhadap mesin dapat meningkat dalam melakukan rekomendasi kesehatan terhadap pasien. Dengan demikian, adopsi penggunaaan AI untuk healthcare akan meningkat.
Startup dan Komunitas
Eureka, nama area di Venetian Convention Center menjadi ajang bagi para startup seluruh dunia untuk memaparkan dan mendemonstrasikan berbagai inovasinya melalui conference dan exhibition. Sebut saja diantaranya seperti China, Korea, Jepang, Vietnam, Jerman, Belgia, Ukraina, dan tentu saja: Amerika Serikat.
Tentunya, masih banyak hal-hal menarik dari CES 2025 ini. Banyak pembahasan menarik yang dapat dilihat pada (CTA, 2025b).
Meninggalkan Las Vegas
Perjalanan kembali ke Indonesia tetap menggunakan ANA Airlines dengan jalur penerbangan yang sedikit berbeda karena tidak singgah di San Franscisco, California. Jalur penerbangan kali ini adalah Las Vegas — Los Angeles — Tokyo — Jakarta. Jetlag tentunya kembali menjadi teman yang setia selama beberapa hari, dimulai saat tiba di Indonesia.
Referensi
- Andi Sama, 2022a, “My First 2022 Business Travel in COVID-19 Pandemic — Is it worth it?,” https://andisama.medium.com/my-first-2022-business-travel-in-covid-19-pandemic-is-it-worth-it-c8ad0bbde642
- Andi Sama, 2022b, “Quantum.Tech 2022: Next Generation Insights of Technology Innovations,” https://medium.com/@andisama/quantum-tech-2022-next-generation-insights-of-technology-innovations-4a88d83a2a26
- Andi Sama, 2021, “Embarking on a Journey to Quantum Computing — Without Physics Degree,” https://medium.com/@andisama/embarking-on-a-journey-to-quantum-computing-without-physics-degree-4f22a1fb6a2b
- CTA, 2025, “CES 2025,” January 5–10 2025, Las Vegas, Nevada, USA, https://www.ces.tech/
- CTA, 2025b, “CES 2025 Coverage,” https://www.ces.tech/discover/
- Imagination, 2025, “What Are The Six Levels Of Autonomous Driving Technology?,” https://www.imaginationtech.com/future-of-automotive/when-will-autonomous-cars-be-available/what-are-the-levels-of-autonomy-in-self-driving-cars/
- IYQ, 2025, “International Year of Quantum,” https://quantum2025.org/events/
- Jensen Huang — NVidia, 2025, “CES 2025 Keynote,” https://www.youtube.com/watch?v=K4qQtPpSn-k
- Sphere Entertainment Group, 2025, “The Sphere Experience,” https://www.thesphere.com/
- Wikipedia, 2025, “Sphere (Venue),” https://en.wikipedia.org/wiki/Sphere_(venue)
